Selamat menuju hari berbahagia

Dengan siapapun kita berjodoh, baik dengan seseorang yang sejak dulu dinanti, seseorang yang sejak dulu dikagumi, atau mungkin dengan seseorang yang baru saja kita temui. Sejatinya dia telah tertulis di Lauh Al-Mahfuz jauh sebelum kita lahir.

So, bukan tugas kita memilih-milih lagi ketika Allah sudah memberikan sinyal.

Tapi, menerima ketetapan takdir, yang siap menyambut hari bahagia itu hadir.

Selamat untuk kamu

Advertisements

Kau Tajamkan atau Tumpulkan?

Tak mudah bagi seorang ayah melepaskan buah hati kesayangannya. Betul? Jika masih belum percaya maka harus segera memiliki buah hatilah kalian…

Tapi pertanyaan selanjutnya, “melepaskan” dalam perihal apa? jenjang usialah yang menentukan terhadap pendewasaan sikap. Gue berasumsi bahwa kita seusia dan pejuang 90-an.

Melepaskan, memilih jalur hidup, seperti meneruskan study sekolah umum, boarding school  ataupun langsung bekerja.

Melepaskan, memilih tujuan hidup, seperti dunia atau akhirat yang dijadikan orientasinya.

Melepaskan, memilih pendamping hidup.

Melepaskan, mengatur finansial dan masih banyak “melepaskan” lainnya.

Namun, dibalik ketidak mudahan itulah adanya kasih sayang yang sangat mendalam terhadap sang buah hati.

Gue yang sejak SMA sudah dilepaskan untuk memilih jalur hidup yang akan gue pertanggung jawabkan sendiri tapi tentu dengan mempertimbangkan saran orang tua. Dan hal yang paling gue anggap berat dalam kebebasan itu adalah, memilih tempat mengaji terbaik. Ko tempat ngaji, bukannya tempat terbaik adalah dirumah. Tentu!!!

Ini perihal banyaknya ilmu agama yang kau miliki dan dijadikan pegangan hidup serta kau akan gunakan nantinya dalam membimbing keluarga kecilmu. Ilmu inipun yang nantinya insya Allah akan menuntun ke surga-Nya dengan kemurnian sunnah Rasulallah SAW didalamnya. Pesan ini semakin kuat sebelum gue beranjakan kaki keluar imigrasi Indonesia untuk melanjutkan study ke LN. Itu hampir 1.5 tahun lalu sehingga akan menajamkan atau menumpulkan kefahaman kita terhadap agama ini. Ingatlah, jika kau seorang laki-laki, maka semua tanggung jawab keluarga kecilmu akan berada di pundakmu dan kau harus siap itu.

Jika kau berpendapat, agama ini sudah murni dan harus dimurnikan atau murni seperti apa lagi? Tidak salah ko pendapat tsb. Ini perihal kalian memfilter konten” atau isi tentang agama islam yang beredar sekarang ini. Banyaknya ustad populer bukan berarti langsung terpatri bahwa mereka mengamalkan dan mendakwahkan agama ini dengan benar” terjaga kemurniannya. Itulah gunanya filterisasi.

Saling mendoakan agar Allah selalu menajamkan pemahaman terhadap agama ini sehingga betul menjadi rahmatan lil alamin dan tersebarkan susuai sunnah Rasulallah SAW.

 

Wallahu ‘alam

Hey! Pemimpin!

Penghujung 2018, sudah kah kalian siap? Siap dengan tahun yang baru 2019, siap untuk tidak melakukan kesalahan yang sama di 2018, resolusi-resolusi baru yang ingin dicapai dsb. Sebenarnya tidak merayakan tahun baru masehi tapi menurut gue ini masih memiliki esensi untuk kita merefleksikan diri. Jika sekarang 2018 masehi maka hal itu sama dengan 1439 hijriah.

Jika kalian berfikir, “wah akhir 2018 dan judul post ini, politik kah? Karena menjelang pemilu serentak di 2019″. Bukan bukan, belum saatnya gue kontribusi postingan ke arah sana. “Hey!” panggilan, teguran, sapaan yang cocok untuk siapapun tanpa melihat umur, jarak keakraban dan juga intensitas komunikasi (general). Dan “Pemimpin” merupakan kata yang tepat untuk seorang laki-laki karena dia akan memberikan komando ataupun panutan di keluarga, lingkungan dan diri sendiri.

Ini perihal “shalat”. Pasti kalian berfikir, “ah basi nih post” tak apalah tapi setidaknya hal ini jadi pengingat gue, lu, semuanya, bahwa nanti ketika masa pertanggungjawaban dan gue ditanya “telah kau buat apa masa luangmu?” Post-ingan bermanfaat jawabnya.

Kalian cari referensi dimana saja perihal shalat maka akan kalian dapati bahwa shalat adalah “suatu perbuatan manusia di dunia yang akan dihisab pertama kali” sehingga kalau shalatnya baik maka bukan tidak mungkin seluruh perbuatan manusia tsb di dunia adalah baik, namun jika ditemui shalatnya buruk maka berkuranglah kesempatan manusia tsb karena hal yang diperintahkan langsung oleh Allah kepada nabi Muhammad SAW tanpa perantara malaikat Jibril a.s. pun tidak terjaga dan terlaksanakan dengan sempurna.

Jadi, mulai dari hal penting namun yang dianggap kecil yaitu “shalat” mulai kita benahi pln hidup di 2019 ini. Kalau untuk gue perihal shalat, karena domisili di LN dan mereka tidak mengenal break shalat maka resolusi gue yaitu, memperbaiki waktu shalat yaitu di awal, mengusahakan berjamah dan selalu meluangkan waktu ke masjid. Kalau kalian?

Semoga bisa merefleksikan diri menjadi lebih baik dan jangan lupa untuk terus berdoa kepada Dia pemilik hati agar terus dikuatkan hatinya.

Wallahu ‘alam

Ar-Rum ayat 40

“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kami sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.”

Efek murajaah di tengah Moeslem winter camp, Smardzewice, Poland.

Pentingkah hari Ibu?

Eits… baru lihat judul sudah berani judging seseorang? Itulah fenomena yang sering terjadi di kalangan millenial. Antusias baca tinggi namun daya baca rendah. Kok bisa? Banyak yang sering dan ingin membaca buku, berita, text, dsb. Namun ketika melihat kuantitas teks yang panjang langsung skip bacaan tsb.

let28453C76-2885-44B2-AFA9-5F07293078A3‘s begin…

Pertama, gue akan membedakan konteks post ini dengan kalian yang sudah ditinggalkan orang tua dan yang masih memiliki orang tua lengkap.

Untuk yang masih memiliki kedua orang tua. Berapa usia kalian? sadarkah kita disepanjang umur yang kita miliki, orang tua selalu memberikan sesuatu yang spesial seperti pelukan hangat, pakaian, masakan ketika kalian pulang, lingkungan yang nyaman, spesialnya hal-hal tsb tidak mereka berikan eventually tapi rutin dan bahkan tanpa diminta, terutama doa mereka untuk anak-anaknya agar selalu sukses.

Gue anggap kita satu generasi kelahiran 90-an. Dimana jika sekarang 2018, kita berumur 25-an. Berarti selama itu pula hal spesial dari orang tua untuk kita tak pernah terputus. Eits… lupa kah kita yang sudah bersemayam di rahim Ibu (wanita spesial) selama (lebih kurang) 9 bulan. Mungkin kalian belum tahu bahwa Allah SWT meniupkan ruh kepada calon manusia di kandungan berumur (lebih kurang) 80 hari.

Capture

Referensi hadis tsb menurut gue cukup sebagai bukti untuk menjelaskan konsep perjalanan calon manusia: “Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dipadukan bentuk ciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari (dalam bentuk mani) lalu menjadi segumpal darah selama itu pula (selama 40 hari), lalu menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, lalu ditetapkan baginya empat hal: rizkinya, ajalnya, perbuatannya, serta kesengsaraannya dan kebahagiaannya. [HR Bukhari & Muslim dari Abd bin Mas’ud ra]”.

Serta taukah kalian kalau proses melahirkan adalah sebuah moment yang dapat membuat kebahagiaan dapat pula membuat kesedihan. Perjuangan Ibu melahirkan kita ke dunia ini dengan mempertaruhkan nyawa mereka. Namun, kelahiran kita ke dunia ini disambut dengan rasa bahagia yang tak terhingga oleh mereka.

Sepanjang usia kita, pernah kah kita membuat mereka menangis, kecewa atau dengan hal kecil seperti mengucap kata “ah”? Kita memberikan sesuatu yang spesial, bunga, hadiah, ucapan sayang, doa dsb [entah tulus atau formalitas] hanya di 22-12 setiap tahunnya bahkan hanya untuk sejumlah like di instagramfacebook atau media sosial lainnya? Dan apakah Ibu kita perlu pengakuan itu? jawabannya “tidak”. Karena mereka tahu bahwa rasa sayang, rasa bangga mereka terhadap kita itu tidak setahun sekali.

Hey kalian… memohon ampun dan ber-istigfar-lah jika hanya sebatas like yang kau butuhkan. Sepertinya kalian sudah bisa menyimpulkan. Bersedihlah jika kalian masih memiliki orang tua namun tidak bisa mengambil atau mendapatkan pahala dari keberadaanya mereka selama di dunia.

Kedua, untuk kalian yang telah ditinggalkan. Tenang dan bersabarlah serta jangan mendo’akannya secara eventually, karena semasa hidup mereka selalu melakukannya tanpa diminta bahkan setiap detiknya di kehidupan mereka adalah untuk memastikan anak-anaknya selalu aman, sukses, sehat dsb. Bersedihlah jika kalian hanya mengingat dan mendo’akan mereka eventually. Gue kasih tips agar orang tua kalian bangga walaupun mereka telah tiada. Jadilah anak yang baik dan tau berbalas budi. Karena amal dari anak soleh untuk orang tuanya itu tanpa hijab (penghalang). Hal paling minim adalah terus mengikuti apa yang Allah SWT perintahkan dan menjauhi larangannya. Jika kita tidak mengikuti tata aturan yang dibuat oleh Dia, maka orang tua kita yang telah wafat akan sangat kecewa.

Kalian pasti familiar dengan do’a ini

“Rabbana ighfir lee waliwalidayya walilmumineena yawma yaqoomu alhisabu” – Yaa Allah, ampunilah hamba dan orang tua-ku serta (semua) orang-orang yang beriman, dimana pada hari kiamat akan didirikan [Qur’an 14:41]; serta

“Rabbi irhamhuma kama rabbayanee sagheeran” – Ya Allah, berilah selalu rahmat untuk kedua orang tua-ku karena mereka telah membesarkan hamba [Qur’an 17:24].

Dan terkahir gue akan berbagi doa ini untuk kalian

اللهم ارحم أمي كمارحمتني صغيرا

اللهم اسعد أمي كمااسعدتني كبيرا

اللهم تقبل من أمي أعمالها صغيرهاوكبيرها

اللهم اجعل أمي من الدين لاخوف عليهم ولاهم يحزنون

وأكرمها بالفردوس الا علي من الجنتي ياكريم 

Yaa Allah kasihanilah Ibuku seperti beliau mengasihiku sewaktu kecil

Yaa Allah bahagiakanlah Ibuku seperti beliau membahagiakanku ketika sudah besar

Yaa Allah terimalah amalan Ibuku dari mulai yang kecil maupun yang besar

Yaa Allah jadikanlah Ibuku dari bagian mereka yang tidak ada rasa takut padanya dan juga tidak ada rasa sedih padanya

Yaa Allah muliakanlah Ibuku dengan surga firdaus yang paling tinggi, Yaa Allah wahai Pemurah Hati.

Ingat… waktu terus berlalu, setiap orang menuju ke liang lahatnya [termasuk gue]. Tinggal siapa yang lebih dahulu dan pada saat itulah penyesalan tidak ada manfaatnya.

Yuk… Tunjukkan bakti kita sekarang juga dan terus mendo’akan mereka terutama untuk yang telah tiada.

Kesimpulannya, hari Ibu atau hari-hari lainnya opini gue “ga penting” karena berbakti dan menunjukkan kasih sayang kita kepada orang tua jangan menunggu hari Ibu.

4siblings

Kami 3 lelaki dengan seorang perempuan dalam ikatan darah yang terasa betul bahwa kami menjadi lebih dewasa.

Ada waktu kamu untuk tinggal dan pergi. Berawal dari gue yang selalu tinggal dirumah karena jenjang pendidikan yang ditempuh tidak mengharuskan gue untuk boarding school. Beda hal dengan ketiga anaknya yang lain karena diharuskan.

Eits, jangan pernah berfikir gue tidak belajar ilmu agama? Karena hal itu gue diperbolehkan untuk tidak ambil boarding school. Sejak kelas 5 sampai gue lulus putih abu-abu, gue belajar agama di salah satu TPA, belajar kitab Fiqih (Fathul Qarib dan kitab kuning), Tahfidz dan Tahsin, Dakwah, dan lain hal. Sama kan? Hanya beda nuansa, maka itu adik gue selalu bilang “santri kalong”.

Gue perkenalkan mereka dengan inisial J (adik ke-1); I (adik ke-2); dan YR (adik ke-3). Okay, nama kami memang memiliki budaya Indonesia (irit, 1 kata, kecuali adik bungsu) dan juga orang tua kami selalu mengambil nama islami, karena mereka yakin bahwa kami akan selalu ingat identitas sebagai muslim dengan selalu menjaga hak-hak Allah.

Dirumah, gue punya rival dong, siapa lagi kalau bukan J. Terkadang kami bertengkar hal sepele, terkadang kami kompak dalam satu hal sehingga orang tua mengikuti kemauan kami. Kami juga selalu kompak untuk iseng ke adik bungsu (YR), karena apapun kemauannya selalu dituruti. Jangan, jangan ditiru, tidak baik.

Waktu pun berlalu, beberapa tahun gue tinggal dirumah hanya dengan J, lalu J ambil boarding school, I pun begitu, bahkan YR pun sama. Tapi, gue sangat bersyukur karena Allah telah memberikan kami pasangan suami istri (red: orang tua) yang tidak hanya peduli dengan pendidikan dunia tapi juga agama dari setiap anaknya harus imbang bahkan lebih. Sepulangnya mereka dan tentu gue sudah di PTN, Allah selalu tolong kami perihal J ikut menyusul masuk PTN, I yang bertambah hafalan dan menjadi tambah berbakti serta lebih feminim, Begitupun hafalan YR dan juara kelasnya.

Jangan pernah kau anggap sama seseorang yang telah lama kau temui, karena setiap detiknya pasti ingin akan perubahan, lebih baik tentunya.

Jika kami semua berkumpul, libur semester dan juga hari raya. Kami semakin kompak untuk berbagi tugas pekerjaan rumah (tugas antar Umi ke pasar, cuci mobil, sapu dan pel rumah, kuras penampungan air, dsb). Satu permainan yang akan selalu kami ingat, ini dari orang tua kami, yaitu tebak dan sambung ayat Quran. Kamu bisa?

Hadiah dari permainan ini biasanya mendapatkan porsi makan lebih di tempat sate&sop kambing langganan keluarga.

Tahun ke tahun, gue bisa melihat kedewasaan mereka salah satunya dari cara berfikir dan menyikapi suatu masalah. Ya, kami tetap tenang dan akan selalu bahagia serta berjanji tidak akan menampilkan wajah sedih di kondisi keluarga kami sekarang. Tidak akan pula menyulutkan semangat kami untuk terus bermanfaat bagi agama, nusa & bangsa, berprestasi dan juga menghafal firman-fiman Allah.

Terkait bagaimana orang tua kami mendidik kami berempat, InsyaAllah gue lanjut di post berikutnya..

The Best Day

Gue akan buat kalian iri, bukan bermaksud sombong. Tapi iri untuk berbagi kebahagiaan. Yap, bertepatan di tanggal 19-20 Maret kemarin. Terjadi banyak momen yang ga akan mungkin terlupakan. 19 Maret, Ortu dan adik” gue dateng ke Surabaya. Sebagai anak rantau, lu pasti bahagia dong??? Et, Ortu dan adik” gue dateng bukan cuma main lho…

Dini hari tepatnya, gue harus menjemput mereka di stasiun Gubeng karena adik gue yang satu turun disini, sedangkan ortu dan adik” gue lainnya di stasiun Psr. Turi. Sebagai anak sulung yang kangen banget sama rumah, karena mengejar cita-cita, eh, orang rumah malah dateng ke Surabaya. Gue sewa penginapan buat mereka di Asrama Haji (highly recommended), ruang besar, AC, bersih, wah cocok lah buat keluarga besar kayak keluarga gue. Makan malam bareng mereka, cerita, canda tawa, keseruan adik” tentang keseharian mereka. Seru deh.

Yeah… Lets do it…

Jam 9 pagi, gue beserta keluarga cabut keliling Surabaya. Tempat yang pertama kita kunjungi Tmn. Bungkul. Kenapa? karena ada sentra kuliner, dan nyokap gue pingin melihat Tmn. yang dibanggain sama warga Surabaya.

Kita ambil beberapa spot foto, asyik juga wajah mereka di kamera. Setelah keliling di Tmn. cukup lama, melihat beberapa kegiatan sosial, muda-mudi diskusi, pedagang asongan, kita lanjut ke tempat berikutnya, Yap, lumpur Sidoarjo, di Porong tepatnya. Sesampainya di Porong, sudah cukup siang, teringat bayangan masing” dari kami sudah tidak nampak. Bukannya kebahagiaan yang timbul, namun kekecewaan. Lumpur Sidoarjo ini mungkin sedikit wajar dijadikan tempat wisata. Hal buruknya, daerah ini dikuasai oleh makelar” yang tak bertanggung jawab. Misal: Mobil parkir (20K) katanya demi keamanan dan rejeki untuk warga sini, masuk per orang (10K) katanya untuk biaya perawatan, sampainya dilokasi tak melihat objek yang menarik satu pun. Hanya melihat kekesalan, kekecewaan dari raut wajah tukang ojek, dan beberapa tukang lainnya. Sesampainya diatas waduk/ tanggul tersebut, hanya terbentang padang pasir nan luas. Dan kalian tahu??? Lokasi yang dibilang objek wisata masih berpuluh-puluh kilometer jaraknya. Ya demi menghilangkan rasa kecewa, kami pun mengambil beberapa spot foto.

IMG_20160319_130107.jpg
Camera Addict Ternyata Adik” Gue, Diatas Tanggul Lumpur Porong

Akhirnya, gue mengusulkan tempat yang ga akan membuat mereka kecewa. Yaa… Cheng-Ho Mosque Pandaan. Ternyata benar banget, ortu dan adik” gue antusias banget.

This slideshow requires JavaScript.

Beberapa keseruan wajah mereka, meneduhkan hati gue. Puas dengan pengetahuan sejarah, foto yang kami dapat, akhirnya kembali ke Surabaya tepat sebelum magrib.  Berlanjut keesokan harinya.

20 Maret, ini merupakan hal penting buat gue. ya pencapaian gelar atas selesainya masa studi gue sebagai engineer dengan major material dan metalurgi. Nambah juga nama gue, ada gelar tambahan dibelakang. Acara ini bernama #Wisuda113 , berjumlah 400 orang untuk sesi hari ini. Kerennya lagi, jurusan gue mendapati penghargaan sebagai peraih IPK tertinggi, 3.77. Buat anak teknik, IP segitu mah ajaib, dan dimiliki hanya mahasiswa yang memiliki bakat terpendam. IP gue ga cumlaude tapi sangat memuaskan, hahaha. Studi yang normalnya ditempuh 4 tahun, gue bisa menyelesaikannya dengan 7 semester ya bisa dibilang 3,5 tahun, dengan beberapa matkul pernah gue ulang. Di kampus gue ga ada lho namanya semester pendek, baik untuk percepatan ataupun pendalaman.

Kalau foto yang bawah itu, grup metal laboratory. keren dong, jurusan gue juga ada cewe nya, siapa bilang batangan semua. Mudah”an tahun depan adek gue menyusul wisuda buat studi elektronya di UGM. Ya setelah proses selesai dan berbagai macam penghargaan, ucapan selamat, foto sana-sini, akhirnya gue foto keluarga dong.

0B6T4r9_Lp6wOT05XdWZBTzhPcDA.jpeg
Yunus Family and So Proud of Us

Begitulah perjalanan atas salah satu cita-cita besar gue, dan akan berlanjut untuk hal-hal baik yang akan gue lakukan ke depannya. Do’a kan yak, biar Indonesia, lingkungan ini tidak kecewa dan sia-sia menerima gue sebagai sarjana teknik, dan gue bisa memberikan hal-hal baru untuk agama, negeri, lingkungan, bahkan diri gue sendiri