Dapatkah kamu bantu saya?

Tenggelamnya matahari di ufuk barat Warsawa menandakan telah masuk waktu magrib. Gue yang kala itu masih sering membawa permasalahan dunia ke masjid sejenak lega tanpa ‘syarat’ karena mendengar suara muadzin itu (khas Yaman). Gue belum pernah umrah/ berkunjung ke middle east, tapi setiap gue bermakmum selalu terasa nuansa tersebut.

Judul itu, “Dapatkah kamu bantu saya? please help me, I hv a big problem. Diutarakan oleh seorang muslim Bangladesh yang berkeluargakan polish. Tanpa sadar, karena gue sedang berdiskusi perihal how to memorize quran constantly dengan pelajar Eitopia (satu program beasiswa)Akhirnya, kami bertiga berdiskusi cukup lama dan berujung di sebuah titik permasalahan, yaitu beliau mencari seorang quran teacher untuk ketiga putranya khususnya putra pertama. Selain berbincang hal itu, gue sebelumnya berdiskusi terkait ‘lucunya’ recruitment process yang tidak menerima foreigner walaupun polish skill diatas rata-rata.

Akhirnya teman itu berkesimpulan merekomendasikan gue sebagai quran teacher mereka dan akhirnya gue menyetujui dengan berbagai argumen yang tidak bisa terbantahkan bahwa

Jadikanlah dan niatkanlah  untuk orang tuamu.

Berdiskusi terkait materi dan schedule; dasar-dasar islam, tajweedwriting and all material in polish on friday after magribAgreed dengan syarat unpaid. Yeah, gue memiliki partner berumur 7 tahun. Melihat kalendar handphone, bahwa gue akan memulai aktifitas tersebut minggu depan. Dan ketika menulis judul ini, gue berada di minggu ke 4, yeah 1 bulan. Bagaimana perkembangan partner gue tersebut?

Berikut perkembangan partner gue dan menyadari di minggu pertama belajar mengajar bahwa dia tidak lancar membaca quran, namun mampu hafal beberapa surat di juz 30. Dan betul sekali, metode yang digunakan diawal yaitu listening. Instesitas yang tinggi mendengar recitation, baik itu di rumah, masjid ataupun lingkungan dia. Lain hal di Indonesia dan harus kita syukuri. Kita mengenal metode belajar IQRA sebelum naik ketingkat Quran. Lingkungan dan budaya yang kita miliki pun lebih dekat dengan middle east.

Hal pertama dan paling penting yang gue lakukan yaitu meminta referensi atau literatur kepada Syeikh/ Imam di Warsawa. Yep, gue berhasil mendapatkan quran in polish dan materi dasar islam in polishI apprecited when the Syeikh said, “you’re a good man because you took that responsiblity from your heart. May Allah always protect you and give the best place for your dad.” 

Metode pertama yang gue ajarkan yaitu, make a bonding. Yep, buatlah dulu ikatan antara diri kita dengan murid sehingga hati kita bisa terkoneksi tanpa adanya rasa sungkan. 24 ke 7 tahun, menjadikan gue sebagai sosok seorang kakak yang peduli terhadp ilmu agama adiknya. Setelah bonding terbentuk, mulailah kita memahami kapan kita mulai, beristirahat walaupun hanya sekadar lelucon ringan serta berhenti menyudahi pelajaran karena lelah dan bosan.

Metode kedua, gue kenalkan kembali dia dengan huruf hijaiyah dan mulai menyambungkan antar huruf sehingga menjdi sebuh kata yang memiliki arti dan mudah dicerna untuk anak usia 7 tahun. Tentu ini gue sesuai riset dan metode pengajaran yang orang tua gue miliki. Lalu gue membuat video singkat, untuk merekam progress dan menunjukkan kepadanya terkait bagian-bagian yang harus diperhatikan dan diapresiasi. Tentu kemas bahan ajar semenarik mungkin.

Metode ketiga, menyesuaikan progress dia dengan materi yang akan diberikan. Sekarang gue sudah berada di materi shalat dan doa. Pahami apa yang dia butuhkan dan itu dapat dijadikan dasar ketertarikan terhadap materi yang akan diajar. Dan tentu jangan pernah dimanjakan oleh kita dan memberikan hukuman, karena itu ada baiknya didiskusikan secara langsung oleh orang tua. Sehingga keputusan tertinggi selalu berad di orang tua. Kepedulian kita saat berdiskusi perkembangan dengan orang tua menjadi kunci.

Senang dan bersyukur gue dipertemukan dengan anak-anak polish moslem, terlebih saat mengetahui progres perkembangan dia. Tersadar bahwa orang tua mereka telah bercerai dan yep, itu akan menjadi topik gue selajutnya.

terima kasih.

Advertisements