Lalat dan Namrud

“Namrud, Tuhan kita dibunuh oleh lalat!”

Siapa yang tidak tahu Namrud. Seorang raja yang mengaku Tuhan pada masa kenabian Ibrahim a.s.. Kejengkelan Namrud bermula ketika Ibrahim merusak kumpulan berhala pada malam hari dan diketahui oleh penduduk Babilonia. Tersidang, Ibrahim a.s. dipagi hari sehingga keluarlah kata dari Ibrahim a.s. “Coba kalian tanyakan ke patung (tuhan) yang paling besar karena dia yang kalian sembah pasti tahu jawabannya!”. Patung yang paling besar di area itu adalah patung Namrud.

Semakin beranglah warga Babilonia saat itu, terlebih Namrud. Ide Namrud yang ingin membakar Ibrahim a.s. dikarenakan kalah berdialog terkait konsep ketuhanan. Ibrahim a.s. berhasil mengalahkan Namrud lewat perkataan, “Hai Namrud, Tuhan-Ku berhasil mengubah siang dan malam serta mengatur tata surya ini, apakah kau bisa?” oleh karena itulah Namrud ingin membakar Ibrahim a.s..

Namun, ketika waktu penghukuman (bakar diri) 3 hari 3 malam. Ibrahim a.s. tidak berhasil dibunuh, karena Allah SWT menjadikan api yang panas (secara akal sehat) namun menjadi dingin. Sehingga terperangah warga Babilonia saat itu dan tambah kesal Namrud. Karena, Namrud sudah tidak bisa didakwahi oleh Ibrahim a.s. seketika itu Allah SWT mendatangkan lalat.

Lalat ini menganggu Namrud selama 3 harı yang akhirnya (atas asbab) membunuh Namrud, karena lalat tsb masuk ke otak Namrud. Siapa yang tidak kenal Namrud? Raja yang memiliki segala kekuasaan dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Tapi, telah musyrik sehingga Allah menjadikannya (Namrud) lebih hina dari seekor lalat.

َالُواْ كُونُواْ هُوداً أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُواْ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah : “Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik“. [2:135]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلاَ يَقْرَبُواْ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَـذَا وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ إِن شَاء إِنَّ اللّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil haram sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.[9:28]

نَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيداً

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.[4:116]

Sehingga setelah meninggalnya Namrud, Ibrahim a.s. hijrah dengan Luth a.s. (ponakannya) ke Palestina. Nanti akan gue coba lanjutkan.

Wallahu ‘alam

Sirah Nabawiyah

Advertisements

Itu bukan takdirmu

Pernah juga kah kalian merasa sudah berusaha keras atau percaya diri 100% bahwa hal itu akan menjadi sesuatu yang disandingkan dengan takdir kita?

Ya, berarti kita masih memaksakan takdir yang bukan tertuliskan untuk kita.

Ingat, semua takdir kita sudah tertuliskan di Lauh al-Mahfuz.

Bukan kita tidak berusaha ko, hanya saja, memang bukan takdir kita.

Cukup mendo’akannya agar terus bahagia sehingga sesuatu yang baik dan diinginkan menjadi takdir kita.

Berbagialah dan bersyukur dengan apa yang kita miliki tahun ini, hari ini, detik ini, yaitu islam sehingga bisa kita implementasikan ke segala aspek kehidupan.

Namanya juga Dunia

Dunia, tempat sementara yang sering sekali dikagumi dan didambakan oleh banyak manusia pada umumnya.

Sedih, senang, manis, pahit dsb tentu dunia memiliki itu semua.

Gemerlap, kelam, berbinar apapun yang kalian sebutkan tentang dunia, ya seperti itu.

Terkadang beberapa manusia mengutarakan sepanjang harinya tentang dunia, tak ayal, kaula muda bahkan sampai yang sudah berumur.

Bukan tidak mungkin atau bahkan sebagian manusia, masih sering, membawa dunia dikala menghadap Tuhan-Nya.

Umumnya bebrapa manusia sering membandingkan apa yang tidak dimiliki di dunia sehingga terbentuklah sesuatu pada hati manusia tsb, disebut dengan ‘menanam dunia’.

Kegelapan dunia terkadang atau sering sekali membawa manusia bercocok tanam lebih banyak dunia di hati.

Namun, kita hanya membutuhkan cahaya yang sedikit dan disebut dengan kata yang cukup singkat, “sementara”.

Dapat kalian artikan kata tersebut? Memiliki definisi yang sangat luas bukan? Definisi tersebut bagaimana kita mengaitkan kata “sementara” dengan objek.

Gue tambahkan untuk objek, “dunia”. Yap, kata itu sebagai objek.

Jadi, “dunia sementara”.

langsung aja, supaya referensinya kelar, tertulis di Qur’an Al-Hajj:47. “Satu hari disisi Tuhanmu adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.”

1 dunia = 1000 akhirat (hari).

Lucu bukan? bukan terhadap referensi, tapi kepada mereka yang setiap harinya bercocok tanam dunia di hatinya. Tidak salah sih, tapi harus diperhatikan dengan “hal apa yang dijadikan untuk bercocok tanam?”

Kalau hal yang dijadikan untuk bercocok tanam, lalu kita tuai hasilnya di dunia, sama aja, 0 besar. Bercocok tanamlah dan hasilnya bisa kita tuai di akhirat.

Seperti apa?

Sebarluaskan lah ilmu yang didapat untuk kebermanfaatan;

Teruslah berbakti kepada orang tua sehingga Allah jadikan anak”mu nanti berbakti;

Tunaikanlah hak” yang Allah inginkan;

Memang di dunia ini banyak peran tapi jadikanlah dunia ini sebagai jembatan kehidupan.

 

Pentingkah hari Ibu?

Eits… baru lihat judul sudah berani judging seseorang? Itulah fenomena yang sering terjadi di kalangan millenial. Antusias baca tinggi namun daya baca rendah. Kok bisa? Banyak yang sering dan ingin membaca buku, berita, text, dsb. Namun ketika melihat kuantitas teks yang panjang langsung skip bacaan tsb.

let28453C76-2885-44B2-AFA9-5F07293078A3‘s begin…

Pertama, gue akan membedakan konteks post ini dengan kalian yang sudah ditinggalkan orang tua dan yang masih memiliki orang tua lengkap.

Untuk yang masih memiliki kedua orang tua. Berapa usia kalian? sadarkah kita disepanjang umur yang kita miliki, orang tua selalu memberikan sesuatu yang spesial seperti pelukan hangat, pakaian, masakan ketika kalian pulang, lingkungan yang nyaman, spesialnya hal-hal tsb tidak mereka berikan eventually tapi rutin dan bahkan tanpa diminta, terutama doa mereka untuk anak-anaknya agar selalu sukses.

Gue anggap kita satu generasi kelahiran 90-an. Dimana jika sekarang 2018, kita berumur 25-an. Berarti selama itu pula hal spesial dari orang tua untuk kita tak pernah terputus. Eits… lupa kah kita yang sudah bersemayam di rahim Ibu (wanita spesial) selama (lebih kurang) 9 bulan. Mungkin kalian belum tahu bahwa Allah SWT meniupkan ruh kepada calon manusia di kandungan berumur (lebih kurang) 80 hari.

Capture

Referensi hadis tsb menurut gue cukup sebagai bukti untuk menjelaskan konsep perjalanan calon manusia: “Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dipadukan bentuk ciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari (dalam bentuk mani) lalu menjadi segumpal darah selama itu pula (selama 40 hari), lalu menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, lalu ditetapkan baginya empat hal: rizkinya, ajalnya, perbuatannya, serta kesengsaraannya dan kebahagiaannya. [HR Bukhari & Muslim dari Abd bin Mas’ud ra]”.

Serta taukah kalian kalau proses melahirkan adalah sebuah moment yang dapat membuat kebahagiaan dapat pula membuat kesedihan. Perjuangan Ibu melahirkan kita ke dunia ini dengan mempertaruhkan nyawa mereka. Namun, kelahiran kita ke dunia ini disambut dengan rasa bahagia yang tak terhingga oleh mereka.

Sepanjang usia kita, pernah kah kita membuat mereka menangis, kecewa atau dengan hal kecil seperti mengucap kata “ah”? Kita memberikan sesuatu yang spesial, bunga, hadiah, ucapan sayang, doa dsb [entah tulus atau formalitas] hanya di 22-12 setiap tahunnya bahkan hanya untuk sejumlah like di instagramfacebook atau media sosial lainnya? Dan apakah Ibu kita perlu pengakuan itu? jawabannya “tidak”. Karena mereka tahu bahwa rasa sayang, rasa bangga mereka terhadap kita itu tidak setahun sekali.

Hey kalian… memohon ampun dan ber-istigfar-lah jika hanya sebatas like yang kau butuhkan. Sepertinya kalian sudah bisa menyimpulkan. Bersedihlah jika kalian masih memiliki orang tua namun tidak bisa mengambil atau mendapatkan pahala dari keberadaanya mereka selama di dunia.

Kedua, untuk kalian yang telah ditinggalkan. Tenang dan bersabarlah serta jangan mendo’akannya secara eventually, karena semasa hidup mereka selalu melakukannya tanpa diminta bahkan setiap detiknya di kehidupan mereka adalah untuk memastikan anak-anaknya selalu aman, sukses, sehat dsb. Bersedihlah jika kalian hanya mengingat dan mendo’akan mereka eventually. Gue kasih tips agar orang tua kalian bangga walaupun mereka telah tiada. Jadilah anak yang baik dan tau berbalas budi. Karena amal dari anak soleh untuk orang tuanya itu tanpa hijab (penghalang). Hal paling minim adalah terus mengikuti apa yang Allah SWT perintahkan dan menjauhi larangannya. Jika kita tidak mengikuti tata aturan yang dibuat oleh Dia, maka orang tua kita yang telah wafat akan sangat kecewa.

Kalian pasti familiar dengan do’a ini

“Rabbana ighfir lee waliwalidayya walilmumineena yawma yaqoomu alhisabu” – Yaa Allah, ampunilah hamba dan orang tua-ku serta (semua) orang-orang yang beriman, dimana pada hari kiamat akan didirikan [Qur’an 14:41]; serta

“Rabbi irhamhuma kama rabbayanee sagheeran” – Ya Allah, berilah selalu rahmat untuk kedua orang tua-ku karena mereka telah membesarkan hamba [Qur’an 17:24].

Dan terkahir gue akan berbagi doa ini untuk kalian

اللهم ارحم أمي كمارحمتني صغيرا

اللهم اسعد أمي كمااسعدتني كبيرا

اللهم تقبل من أمي أعمالها صغيرهاوكبيرها

اللهم اجعل أمي من الدين لاخوف عليهم ولاهم يحزنون

وأكرمها بالفردوس الا علي من الجنتي ياكريم 

Yaa Allah kasihanilah Ibuku seperti beliau mengasihiku sewaktu kecil

Yaa Allah bahagiakanlah Ibuku seperti beliau membahagiakanku ketika sudah besar

Yaa Allah terimalah amalan Ibuku dari mulai yang kecil maupun yang besar

Yaa Allah jadikanlah Ibuku dari bagian mereka yang tidak ada rasa takut padanya dan juga tidak ada rasa sedih padanya

Yaa Allah muliakanlah Ibuku dengan surga firdaus yang paling tinggi, Yaa Allah wahai Pemurah Hati.

Ingat… waktu terus berlalu, setiap orang menuju ke liang lahatnya [termasuk gue]. Tinggal siapa yang lebih dahulu dan pada saat itulah penyesalan tidak ada manfaatnya.

Yuk… Tunjukkan bakti kita sekarang juga dan terus mendo’akan mereka terutama untuk yang telah tiada.

Kesimpulannya, hari Ibu atau hari-hari lainnya opini gue “ga penting” karena berbakti dan menunjukkan kasih sayang kita kepada orang tua jangan menunggu hari Ibu.

Cukuplah Allah bagi kami

⬇️ IDN/ENG

– Dan sekiranya mereka benar-benar rida dengan apa yang diberikan mereka oleh Allah dan rasul-Nya, dan berkata “Cukuplah Allah bagi kami, Allah dan rasul-Nya akan memberikan kepada kami sebagian karunia-Nya. Sesungguhnya kami orang-orang yang berharap kepada Allah”.

– (how much more seemly) had they been content with that Allah and His messenger had given them and had said: Allah sufficeth us. Allah will give us of His bounty, and (also) His messenger. Unto Allah we are suppliants.”

img_3880

Choose Your Story

Hal ini terkait pendidikan atau teknik. Berawal dari latar belakang keluarga, bokap pun menginginkan gue meneruskan jalur karirnya. Hal ini gue ketahui setelah berdiskusi dengan beliau #jarangbanget. So, ketika gue pulang dan membawa selembar form undangan masuk PTN dan harus dikembalikan keesokan harinya. Dan mau tidak mau, gue harus membutuhkan saran kedua orang tua dan mereka juga diharuskan tanda tangan di form tersebut. Perbincangan pun dimulai:

G: “karena ini semester akhir dan guru ngasih form ini”, #nunjukkinform

O: “kapan harus dikembalikan?”,

G: “besok, dan kira-kira pilih jurusan apa ya Bi?”,

O: “pilih fisika aja, kan kamu bagus tuh grafik nilai fisikanya”,

G: “ha? fisika? dimana?”,

O: “iya fisika, UNJ bagus juga keguruannya”,

seketika itu tersontak, lah, guru dong…

G: “zul ga mau keguruan dan mau teknik”,

O: “serius? coba kamu pikir lagi, dan emg sudah nentukan mau dimana?”,

G: “sudah ko, tadi sih mau pilih institut di Bandung tapi… pilih institut di Surabaya sama universitas di Lampung”,

O: “jauh-jauh pilihannya, ga mau yang dekat aja?”,

G: “iya, karena institut tempat yang sesuai untuk study teknik, dan pilihan kedua di Lampung karena mau coba hidup diluar Jawa”,

O: “Oh.. iya sudah kalau sudah mantap”.

Perbincangan itu pun berakhir dengan selesainya makan malam dan gue dapat tanda tangan di form tersebut walaupun pilihannya masih kosong. Keesokan hari sebelum berangkat sekolah…

U: “cuma mau ngasih tau, semalam Abi ngomong dan mau kamu untuk study fisika di UNJ. Tapi Umi tau,  kamu akan ngisi form itu

dengan pilihan kamu”.

Pada akhirnya, gue tetap dengan pilihan teknik. (Lolos ga???) #berlanjut

#NOTE, G (gue); O (ortu); U (umi)

#HIKMAH

  • Tidak ada yang salah dengan menjadi seorang guru. (baca post sebelumnya);
  • Bicarakan baik-baik dengan kedua orang tua;
  • Do’a memohon petunjuk karena ada firman Allah

      “Boleh jadi kamu benci dengan sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu sedangkan itu amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui” (Al-Baqarah: 216)

Tapi jangan lupa,

You can’t change your past, but you can change your future, and this is the future you choose”