Category Archives: Life

Apa kabar Iman?

Bulan Sya’ban sudah hampir habis, pertanda akan datang bulan agung, yap Ramadhan, dimana hal baik yang dilakukan akan dibalas berlipat ganda, setan-setan dibelenggu, pintu neraka ditutup, begitupun sebaliknya.

Namun, pagi ini gue dikirimi pesan oleh salah satu guru bahasa. Bagaimana iman, dan sudah siap dengan Ramadhan???

Gambar diatas adalah syair dari salah satu syeikh, dengan arti “Jika kamu tidak menemukan debu pada ponselmu, sedangkan kamu menemukannya pada mushafmu. Maka ketahuilah, kamu lebih mementingkan hubungan terhadap makhluk dari pada hubunganmu dengan khaliq (Allah)”.

Menohok sekali buat gue, mengingat gue jarang membuka mushaf. Beberapa minggu terkahir hanya bisa muraja’ah dengan ingatan teman. Tertinggal untuk hadir di kajian-kajian rutin. Bagaimana kesiapan menghadapi Ramadhan?

Tekad gue sudah bulat, Jangan sampai gue terbelenggu dengan nikmatnya dunia. Dan harus sukses menjamu Ramadhan tahun ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ada beberapa tips yang gue peroleh juga dari guru gue tersebut perihal menghadapi bulan Ramadhan: (a). Hindari permusuhan antar sesama; (b). Perhatikan asal usul makanan kita; (c). Latihlah diri untuk berpuasa walaupun cuma senin-kamis; (d). Biasakan qiyamul lail; (e). Biasakan bersedakah walaupun nominal kecil; (f). Menjaga lisan; (g). Bacalah Al-Quran dengan rutin walaupun belum bs one day one juz; (h). Jaga silaturahim; (I). Jaga pandangan; (j). Jangan terlalu fokus dengan cinema-cinema yg ada, karena itu bisa diputar, sedangkan Ramadhan belum tentu kita dapatkan lagi.

Yuk sama-sama kita perbaiki Iman, Iman itu memang naik-turun. Tapi harus Ada usaha untuk tetap menjaganya naik. Gue juga masih belajar, tapi dengan berbagi seperti ini, semoga Allah selalu menjaga Iman kita semua. Aamiin.

Advertisements

[review] Surga yang tak Dirindukan 2

Gue sedikit me-review terkait film Surga yang tak Dirindukan 2. Buat kalian yang belum punya waktu, belum punya uang, atau bahkan merasa tidak sesuai genre, ada baiknya membaca review gue karena sekilas akan bercerita tentang sequel sebelumnya. Tokoh yang berperan dalam film ini menurut Gue terlalu kece, mulai dari Laudya Cynthia Bella (sebagai Arini), Fedi Nuril (sebagai Pras), Reza Rahadian (sebagai Dr. Syarief), dan Raline Shah (sebagai Meirose), serta Sandrina Michele (sebagai Nadya)

Pada sequel sebelumnya, Meirose telah menjadi isteri yang ke-dua dari Pras dikarenakan tidak baiknya kondisi mental maupun keluarga dari Meirose. Sehingga terjadi kecelakaan yang melibatkan Pras dengan Meirose, dan membuat Pras iba melihat kondisi Meirose. Dilain sisi, Arini merasa kecewa karena Meirose telah merusak surga kecil yang dimilikinya, yakni Pras, Arini dan Nadya. Namun, dengan tekad Pras dikarenakan tak ingin adanya anak yatim piatu lagi, akhirnya Arini pun merelakannya. Hiduplah dua keluarga atau dua surga dalam satu rumah, dan sequel sebelumnya berakhir dengan Meirose yang harus pergi mencari ayahnya dengan membawa Akbar Muhammad (anak Meirose hasil hubungan dengan pria yang menyakitinya).

Kalian bingung kah? Jika tidak biar Gue lanjutkan ke review film yang lagi hits ini, kalau bingung ada baiknya dilihat sequel sebelumnya.

Film ini diawali dengan memutar beberapa adegan yang terjadi pada film sebelumnya, dan menurut Gue itu berhasil membuat penonton tertawa dan tercengang, “kok filmnya gini? Wah salah putar roll filmnya nihh”, itulah cuitan sana-sini yang Gue dengar.

Arini yang memulai tour-nya bersama Nadya dikarenakan buku yang telah dibuatnya, sehingga memaksa Arini untuk interview, open talk di Budapest (ibu kota Hungaria). Ternyata, Arini bertemu dengan Akbar dan Meirose di salah satu masjid terbesar di Budapest. Meirose berhasil bertemu dengan ayahnya dan membuka boutique di daerah Santandre. Dalam sekali tour-event, Arini bertemu dengan Dr. Syarief (salah satu dokter spesialis kanker) dan memaksa Arini untuk bercerita di depan pasiennya. Dilain sisi, Dr. Syarief ini lah yang memiliki hubungan dengan Meirose. Selama di Hungaria, Meirose sudah berniat mengakhiri hubungannya dengan Pras, begitupun dengan Pras. Di suatu waktu, Arini masuk rumah sakit dan terdiagnosa kanker rahim stadium 4 juga sudah menyerang otak. Dr. Syarief menyarankan untuk melakukan biopsy, Namun Arini menolaknya, karena Arini sadar bahwa hidupnya tinggal sebentar serta tidak ingin melawan kehendak Allah. Dr. Syarif pun menceritakan kepada Meirose, bahwa ia memiliki pasien yang sangat tangguh dengan tidak memberitahukan keadaannya kepada keluarga. Namun, si kecil Nadya pun mengetahui dan dengan tegar mencoba membahagiakan Arini disisa waktunya.

Nadya pun mengetahui bahwa keinginan Ibunya itu adalah menjadikan Meirose sebagai pengganti Ibunya kelak. Nadya terus mencari cara untuk menyatukan Pras (ayahnya) dengan Meirose. Pras tetap bersikeras ingin menceraikan Meirose. Akhirnya Pras menyadari bahwa wanita yang pantas menggantikan posisi Arini adalah Meirose. Dilain sisi, Meirose belum mengetahui keadaan Arini sampai suatu hari Pras dan Arini berkunjung ke Santandre, rumah Meirose. Arini melakukan perbincangan empat mata dengan Meirose, bermaksud ingin Meirose tetap menjadi isteri dari Pras. Dr. Syarief pun masuk ke rumah Meirose dan kaget melihat pasiennya (Arini) tersebut adalah salah satu bagian dari kehidupan masa lalu Meirose.

Meirose pun sedih mendengar keadaan Arini yang disampaikan oleh Dr. Syarief. Akhirnya, Meirose pun memutuskan untuk mempertahankan hubungannya dengan Pras dan menjadi Ibu dari Nadya dan Akbar.

Bagaimana dengan Dr. Syarief? Kedewasaannya lah yang membuat ia merelakan Meirose bahagia dengan Pras. Terus? Masih kurang kah cerita Gue? Bisa komen atau nonton filmnya deh, hehehe

Diluar konten, Gue melihat kanan-kiri. banyak pasangan yang berulang kali menangis bahkan dia laki-laki. Gue sendiri hanya bisa tersenyum, “ah, ada waktunya untuk ku melihat kamu sebagai masa depan ku”.

Kebesaran Hati…

23 pencari ilmu ini dipertemukan oleh Allah dalam ruang belajar yang terbilang “dasar”. Ilmu dasar terkait pesawat terbang. Ruang belajar ini pun tersusun dalam sebelas modul. Singkat cerita seluruh modul telah kami lalui. Beberapa instruktur menyampaikan dengan jelas, sedangkan modul lainnya kami yang menerangkan dengan jelas. Ketika hasil ujian dari salah satu modul yang membuat kami merasa tidak puas. Bisa Anda pikirkan hampir 17 dari 23 pencari ilmu terkena re-exxam.

Gue mulai menelaah, dimana sih letak kesalahan. Andaikan kami yang re-exxam, toh tidak harus sampai sebanyak ini. Dibeberapa kisi-kisi yang diberikan, kami semua bisa menjawab dengan baik. Alhasil, Gue bersyukur bisa berbicara empat mata dengan instruktur dan atasan terkait. Ternyata, ada sikap men-generalisir semua kemampuan para pencari ilmu. Atasan itu merasa bahwa toh, para pencari ilmu sebelum kalian bisa melewati modul tersebut dengan baik, namun sikap dari instruktur itulah yang menurut Gue patut di teladani. Instruktur itu memberikan materi sesuai kapabilitasnya dan mengajukan bentuk soal sesuai apa yang telah diajarkan.

So, menurut Gue, always don’t judge the people by our first impression. Kita telah mencoba mengerjakan sesuatu dengan sangat baik, namun hasil berkata lain. Maka hal yang sangat diperlukan disini adalah kebesaran hati. Seberapa besar hati kita dapat menerima realita yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Nih hal yang bisa Anda ingat, “Allah tidak memberikan apa yang kamu inginkan, tetapi Allah memberikan apa yang kamu butuhkan.” Ketika Anda tidak memiliki kebesaran hati, maka Anda akan menutup realita yang terjadi disekitar. Berawal dari kebesaran hati-lah, kita akan menjadi besar.

Satu cerita lainnya yang menurut Gue sangat pantas dibagikan ke khalayak luas.

Dikarenakan hari terkahir para pencari ilmu ini belajar bersama. Kami memutuskan untuk makan siang diluar area perkantoran, kurang lebih sekitar 23 km dari kantor. Itu pun diputuskan setelah berdiskusi panjang dan cukup memakan waktu. Dikarenakan keadaan yang tidak bisa membuat kami untuk membawa kendaraan masuk ke area kantor, maka kami memutuskan untuk men-charter mobil. SIngkat cerita kami mendapatkan charter-an mobil dengan harga normal. Nah, entah kenapa kami diturunkan jauh dari TKP. Kami pun bingung dan bertanya-tanya. Alhasil, supir itu menjawab. “Bapak kan tadi mencari tempat makan disekitaran sini.” Beberapa rekan Gue sudah mulai geram, mengumpat, bahkan sudah turun dari mobil tersebut. Dengan kedewasaan Gue (duileeh), mulai menelaah letak kesalahan yang terjadi. Hasilnya adalah, kami tidak mengkomunikasikan dengan baik diawal terkait tujuan pasti.

Kesal? Sudah pasti? Mau makan siang, kok diturunkan ditempat ramai dan bahkan tidak ada tempat untuk makan siang bersama.

Langsung lah Gue ambil tindakan untuk menengahi dan akhirnya kita semua diantarkan ke tempat tujuan dengan biaya tambahan (ehehe ide bodoh)

Yang dapat Gue lihat adalah, ketika Anda tidak bisa membesarkan hati Anda. Masalah yang dihadapi pun akan terus menjadi besar, sedangkan kita tahu bahwa kita memiliki Allah yang lebih besar. Membuat masalah tersebut menjadi kecil yang dengan membuat hati kita besar atas kebesaran Allah.

Kakek…

Hampir setahun ya Kek?

Bagaimana kabar Kakek disana?

Semoga Allah memberikan hadiah terbaik.

Terbaik karena banyak hal-hal baik yang telah kau perbuat di dunia, Kek

“Bagaikan bunga yang tumbuh di suatu lahan tandus”, itulah yang bisa cucumu ini gambarkan.

Cucu pertama, tentunya, engkau salah satu yang berbahagia atas kelahiranku

Terdidik dalam lingkungan agamis dan tidak mengajarkan sifat manja

 

Engkau selalu bersilaturahim dengan orang sekitar di pagi hari

Siang menuju malam engkau tetap melanjutkan rutinitasmu (Qur’an wajib one day one juz; tidak absen menjadi mu’adzin; amil; dan masih banyak lagi)

Engkau pun begitu disegani

Sampai suatu waktu

 

Cucu pertamamu ini beranjak dewasa dan siap untuk melanjutkan studi-nya sebagai anak rantau

Ku lihat raut wajah sedih itu

Kau menepuk-nepuk bahu ku beberapa kali

Menasehati banyak hal apa yang wajib ku perbuat dan yang harus ku tinggalkan

Yang paling ku ingat adalah

Kau selalu menasehatiku untuk selalu membaca do’a ini:

“Allahumma Yassir wala Tu’assir; Allahumma Tammim bil Khoir”

(Ya Allah permudahkanlah urusanku dan janganlah engkau mempersulitnya)

 

Tak pernah lupa aku mendo’akan mu Kek

Anakmu adalah Umi terbaik yang diciptakan Allah untuk mendidik cucumu ini

Aku begitu bangga menjadi bagian dari keluarga Abd. Syukur

Semoga Allah memberikan limpahan rahmat-Nya; dan karunia-Nya untuk mu, Kek…

 

Teruntuk Abd. Syukur bin Marsyaih

Dari Cucu pertamamu tersayang

The Best Day

Gue akan buat kalian iri, bukan bermaksud sombong. Tapi iri untuk berbagi kebahagiaan. Yap, bertepatan di tanggal 19-20 Maret kemarin. Terjadi banyak momen yang ga akan mungkin terlupakan. 19 Maret, Ortu dan adik” gue dateng ke Surabaya. Sebagai anak rantau, lu pasti bahagia dong??? Et, Ortu dan adik” gue dateng bukan cuma main lho…

Dini hari tepatnya, gue harus menjemput mereka di stasiun Gubeng karena adik gue yang satu turun disini, sedangkan ortu dan adik” gue lainnya di stasiun Psr. Turi. Sebagai anak sulung yang kangen banget sama rumah, karena mengejar cita-cita, eh, orang rumah malah dateng ke Surabaya. Gue sewa penginapan buat mereka di Asrama Haji (highly recommended), ruang besar, AC, bersih, wah cocok lah buat keluarga besar kayak keluarga gue. Makan malam bareng mereka, cerita, canda tawa, keseruan adik” tentang keseharian mereka. Seru deh.

Yeah… Lets do it…

Jam 9 pagi, gue beserta keluarga cabut keliling Surabaya. Tempat yang pertama kita kunjungi Tmn. Bungkul. Kenapa? karena ada sentra kuliner, dan nyokap gue pingin melihat Tmn. yang dibanggain sama warga Surabaya.

Kita ambil beberapa spot foto, asyik juga wajah mereka di kamera. Setelah keliling di Tmn. cukup lama, melihat beberapa kegiatan sosial, muda-mudi diskusi, pedagang asongan, kita lanjut ke tempat berikutnya, Yap, lumpur Sidoarjo, di Porong tepatnya. Sesampainya di Porong, sudah cukup siang, teringat bayangan masing” dari kami sudah tidak nampak. Bukannya kebahagiaan yang timbul, namun kekecewaan. Lumpur Sidoarjo ini mungkin sedikit wajar dijadikan tempat wisata. Hal buruknya, daerah ini dikuasai oleh makelar” yang tak bertanggung jawab. Misal: Mobil parkir (20K) katanya demi keamanan dan rejeki untuk warga sini, masuk per orang (10K) katanya untuk biaya perawatan, sampainya dilokasi tak melihat objek yang menarik satu pun. Hanya melihat kekesalan, kekecewaan dari raut wajah tukang ojek, dan beberapa tukang lainnya. Sesampainya diatas waduk/ tanggul tersebut, hanya terbentang padang pasir nan luas. Dan kalian tahu??? Lokasi yang dibilang objek wisata masih berpuluh-puluh kilometer jaraknya. Ya demi menghilangkan rasa kecewa, kami pun mengambil beberapa spot foto.

IMG_20160319_130107.jpg

Camera Addict Ternyata Adik” Gue, Diatas Tanggul Lumpur Porong

Akhirnya, gue mengusulkan tempat yang ga akan membuat mereka kecewa. Yaa… Cheng-Ho Mosque Pandaan. Ternyata benar banget, ortu dan adik” gue antusias banget.

This slideshow requires JavaScript.

Beberapa keseruan wajah mereka, meneduhkan hati gue. Puas dengan pengetahuan sejarah, foto yang kami dapat, akhirnya kembali ke Surabaya tepat sebelum magrib.  Berlanjut keesokan harinya.

20 Maret, ini merupakan hal penting buat gue. ya pencapaian gelar atas selesainya masa studi gue sebagai engineer dengan major material dan metalurgi. Nambah juga nama gue, ada gelar tambahan dibelakang. Acara ini bernama #Wisuda113 , berjumlah 400 orang untuk sesi hari ini. Kerennya lagi, jurusan gue mendapati penghargaan sebagai peraih IPK tertinggi, 3.77. Buat anak teknik, IP segitu mah ajaib, dan dimiliki hanya mahasiswa yang memiliki bakat terpendam. IP gue ga cumlaude tapi sangat memuaskan, hahaha. Studi yang normalnya ditempuh 4 tahun, gue bisa menyelesaikannya dengan 7 semester ya bisa dibilang 3,5 tahun, dengan beberapa matkul pernah gue ulang. Di kampus gue ga ada lho namanya semester pendek, baik untuk percepatan ataupun pendalaman.

Kalau foto yang bawah itu, grup metal laboratory. keren dong, jurusan gue juga ada cewe nya, siapa bilang batangan semua. Mudah”an tahun depan adek gue menyusul wisuda buat studi elektronya di UGM. Ya setelah proses selesai dan berbagai macam penghargaan, ucapan selamat, foto sana-sini, akhirnya gue foto keluarga dong.

0B6T4r9_Lp6wOT05XdWZBTzhPcDA.jpeg

Yunus Family and So Proud of Us

Begitulah perjalanan atas salah satu cita-cita besar gue, dan akan berlanjut untuk hal-hal baik yang akan gue lakukan ke depannya. Do’a kan yak, biar Indonesia, lingkungan ini tidak kecewa dan sia-sia menerima gue sebagai sarjana teknik, dan gue bisa memberikan hal-hal baru untuk agama, negeri, lingkungan, bahkan diri gue sendiri

 

Jomblo, Jodoh dan Muslim

Akhirnya mendapatkan sebuah semangat lagi dalam menulis, setelah sekian lama menghilang dari peredaran (hehe).

Di tahun terkahir perkuliahan, terkadang galau (bahasa anak muda). Permasalahan yang dihadapi variasi, mulai dari skripsi/tugas akhir, pekerjaan, planning hidup untuk lanjut studi atau kerja atau nikah dulu.

Membuka lembaran lama dari facebook kemarin. Terlihat salah satu teman, membuat sebuah picture mengenai jodoh. Begini isi dari picture itu

Saya Bangga Menjadi Jomblo, Karena Saya Muslim

Lucu melihat post tersebut, namun saya berfikir dan menelaah lebih dalam. Terkait kata jomblo, jodoh dan muslim. Begini, untuk permasalahan jomblo pun dia harus mencari jodoh (bila sudah tepat). Dan tidak bisa dibilang, hanya karena muslim maka saya jomblo.

Masalah Muslim harus jomblo, ya memang. Tapi, Jomblo belum tentu muslim lho~. Dan tenang bagi para muslim/ah permasalahan jodoh sudah diatur

“Hai Manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsan-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan maha Mengenal.”  [QS; Al-Hujuraat (49) :13]

Dan ingat juga kisah antara Zulaikha dengan Nabi Yusuf a.s.

Pada saat itu Zulaikha mengaharapkan cinta Nabi Yusuf a.s; namun Allah menjauhkan Nabi Yusuf terhadap Zulaikha. Dan ketika Zulaikha mengharapkan cinta Allah, maka Allah membuat Nabi Yusuf dekat dengan Zulaikha.

Jadi, kita Muslim emang harus Jomblo, dan jodoh pun sudah diatur serta kita tinggal memantaskan diri aja.

Gaya Hidup Mahasiswa

Sore itu dikelas Riset Operasional & Manajemen Produksi setelah membahas hasil ujian, Dosen saya mulai berceloteh terkait sistem dijurusan terutama yang dibuat oleh mahasiswanya (HIMA). Entah tiba-tiba beliau memanggil beberapa teman saya ke depan, dan layaknya model. Diperlihatkanlah style pakaian mereka didepan kelas.

Sayangnya tidak terfoto, nih tapi ada sedikit ilustrasi (sumber: google)

Ala Bengkel   II   Ala Mahasiswa  II  Ala Pengusaha

Ala Bengkel II Ala Mahasiswa II Ala Pengusaha

Nah saat teman saya maju dan memperagakan pakaiannya, barulah beliau menjelaskan. Begini kah tingkah laku Anda sekarang? Berbeda sekali Anda saat menjadi mahasiswa baru? Begini kah hasil dari proses kaderisasi?

Buat kalian yang bertanya “Apa tuh kaderisasi?”
Kaderisasi merupakan fase untuk membentuk karakter yang sesuai dengan dunia kampus. Diawal perkuliahan kami diajarkan terkait attitude, sopan santun, solid, dsb. Itulah parameter yang kami kejar. Disaat setelah kami lulus dari fase tersebut, nilai-nilai itu mulai ditinggalkan. Dalam benak saya, ada benar nya juga kenapa saya menjadi berubaha dan berbeda saat menjadi mahasiswa baru.

Menurut beliau,

gaya pakaian yang kalian pakai sekarang itu mencerminkan pribadi kalian, first impression jika orang lain melihatnya. Mereka langsung dapat menilai pribadi kalian.

Beliau sangat senang dengan pakaian gaya pengusaha, tapi beliau sangat miris melihat pakaian gaya tukang bengkel. Pakai sepatu di slop (diinjak belakangnya), celana bolong, potongan rambut ga sesuai, muka kusam, pakaian belum disetrika, wah serba kurang dah pokoknya. (kalo ilustrasi diatas masih bagus, hehe). Beliau berharap, jika kami belum bisa merubah cara berpakaian, sikap kita, tutur kata kita, jangan pernah mengader adik-adiknya. Karena apa yang dilihat adik-adik maba itu dapat dicontoh. Biasanya itu “Senior is Superior”, itu mindset yang sulit dihancurkan. Bahkan, saya pernah melihat bahwa ketika saya berpapasan dengan dosen lain dan terdapat adik maba berpapasan dengan saya. Apa yang bisa anda tebak? Adik maba itu malah menyapa saya dan tidak menyapa dosen tersebut.

Miris, dan itulah yang ditanyakan beliau. “Apa sistemnya yang salah? atau individu yang ada didalam sistem tersebut?”
Saya sebagai senior pun sulit untuk berargumen, memang penilaian personal dapat berakibat ke kelompok.

Lakukan hal yang wajar sebagai mahasiswa, dan dulang prestasi sebanyak-banyaknya, kembangkan idealis Anda. Ketika Anda sudah lulus, idealisme tersebut bisa saja hilang. Berpegang teruslah pada Al-Quran dan Hadits karena dari situlah ilmu kehidupan yang paling pas, baik pribadi Anda berbeda.