CATATAN ANAK SEORANG PENGAJAR

Perjalanan saya sekarang tak lepas dari jerih payah seorang guru. Dibesarkan dalam lingkungan pendidikan tak menjadikan pribadi yang handal di setiap pelajaran, namun menjadikan pribadi yang peduli terhadap kesejahteraan guru di Indonesia khususnya di provinsi Banten. Tulisan ini saya dedikasikan untuk seluruh guru (sebagai pengajar) dan para orang tua yang masih minim informasi perihal kesejahteraan guru Indonesia.
Sampingkan terlebih dahulu guru berlabel PNS karena akan saya bahas setelah ini. Guru honor merupakan profesi yang paling istimewa, bagaimana tidak? Ketika seseorang memutuskan menjadi guru, maka perjalanan dimulai dengan keikhlasan. Mengajar beberapa jam (jam ngajar) di suatu sekolah dengan penghasilan yang dibawah UMK (Upah Minimum Kota) [1][2]. Tak ayal, guru honor tersebut mencari tambahan penghasilan dengan mengajar di beberapa sekolah bahkan membuka private. Hal ini menjadi sangat berat tentunya ketika seorang guru itu pria, karena based on my religion “pria memiliki tanggung jawab penuh untuk jasmani dan rohani atas keluarganya”. Idealnya, guru honorer ini mampu mengikuti tes CPNS, lulus dan mendapatkan beberapa tunjangan yang bisa dibilang layak. Namun, tak banyak pula yang gagal di setiap tahunnya dan berharap lulus di tahun-tahun berikutnya. Faktor lain dari gagalnya tes salah satunya yaitu kuota atau jumlah yang tersedia di setiap posisi.
Bagaimana mengatur penggajian guru honor? Anda tau dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah)? Yap, dari dana BOS-lah guru-guru honor itu digaji[1][3]. Dana BOS yang cair ± setiap 3 bulan pun membuat pihak sekolah berpikir keras untuk mengatur keuangannya. Teruntuk para orang tua yang masih menanyakan perihal pendidikan 12 tahun gratis dan masih diminta membayar bangunan, buku ataupun seragam, bahkan tunjangan ekstrakurikuler. Sisi-sisi itulah yang diatur sekolah untuk membuat keuangan yang sehat, menggaji guru honorer, perawatan bangunan, menambah fasilitas, dan hal lainnya. Jangan melihat dengan mata tertutup untuk perihal pendidikan di Indonesia.
Guru PNS, mereka memiliki tunjangan golongan meskipun biasanya tersendat. Hal ini lah yang membuat sedikit berbeda, dan menjadi profesi guru menjadi jalur karir. Tapi percayalah, ada perjuangan yang tak terkira beratnya untuk mendapatkan gelar PNS. Perbandingan guru honorer dengan guru PNS dapat mencapai 5 : 1 di setiap kotanya[4]. Guru, bahagia ketika siswa itu berprestasi, terlebih lagi siswa itu dapat bermanfaat untuk lingkungan. Bagaimana melihat bidang pendidikan ini agar menjadi lebih baik?
Pastikan kurikulum yang digunakan sesuai dalam arti, output pelajar yang diharapkan sesuai dengan visi bangsa dan mampu tercapai. Berikan beberapa alternatif tunjangan untuk para guru honor. Membentuk interaksi aktif antara sekolah dan orang tua pelajar, sehingga adanya pengawasan pelajar dan dana. Jadilah guru honor yang tetap ikhlas dan bahagia dalam mengajar, karena saya yakin akan ada balasan dari Allah dan tidak selalu berbentuk materi. Jadilah pelajar yang seyogyanya pandai, dalam mengambil seluruh ilmu yang diajarkan. Seraplah yang baik dan aplikasikan di masyarakat. Saya melihat negara-negara maju memiliki pendidikan yang sangat baik dikarenakan mereka mulai dari tata kelola keuangan dan pemetaan sumber daya manusia. Bukan tidak mungkin, pendidikan di Indonesia bisa menjadi lebih baik. Selamat Hari Guru Nasional. Terima kasih untuk semua guru yang telah mendidik saya, tak akan terlupa dan tak mungkin bisa saya menggantinya.
Zulkifli (Katowice, 26-Nov-17 10.15 CET)
Ref:
[1] My father, Yunus, NIP 196707091998021XXX,
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s